Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Hubungan SOI (Southern Oscillation Index) Dengan Awal Musim Di Indramayu PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Sabtu, 10 Februari 2007 16:57

Tahun Buletin 2006 

oleh : Suciantini 

ABSTRAK 

Bahaya banjir maupun kekeringan cukup signifikan mempengaruhi produksi tanaman pangan (padi) di Indramayu. Oleh karena itu, penentuan awal musim  yang tepat akan sangat membantu petani untuk memulai kegiatan bercocok tanamnya, dan kerugian akibat penyimpangan iklim dapat diminimalisir.  Tulisan ini menyajikan  hubungan awal musim dengan nilai SOI (Southern Oscillation Index).  Fase SOI merupakan salah satu indikator untuk melihat peluang curah hujan pada musim tertentu, hal ini terkait dengan  akan terjadi atau tidaknya penyimpangan iklim. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2003  dengan studi kasus Kabupaten Indramayu.   Untuk membuat persamaan regresi, data SOI setiap bulan dipilah  berdasarkan fase  1,3 , 2,4 dan fase 5.   Awal musim hujan (AMH)  dan awal musim kemarau (AMK) diklasifikasikan berdasarkan  tahun ENSO ( La-Nina dan El-Nino) dan tahun normal.  Pemilahan fase SOI dimaksudkan juga untuk melihat peluang  anomali curah hujan pada bulan atau musim tertentu. Berdasarkan analisis regresi diperoleh hasil bahwa indikator SOI umumnya lebih nyata pengaruhnya untuk wilayah Indramayu  pada musim kemarau.  Sedangkan pada musim hujan, tidak terdapat perbedaan yang nyata pada semua kelompok hujan.  Hal tersebut terkait dengan anomali pada  saat musim kemarau lebih berpengaruh dan memberikan efek yang lebih serius dibandingkan anomali curah hujan  pada musim hujan, di seluruh Indramayu.  Dengan demikian, jika terjadi El-Nino, akan menimbulkan dampak  kekeringan dan puso yang lebih besar dibanding pada saat  La-Nina.  Pada MH, kisaran anomali  pada tahun-tahun La-Nina, mempunyai kisaran nilai-nilai positif yang lebih  panjang dibanding tahun-tahun El-Nino, sedangkan pada MK sebaliknya.   

Kata kunci : SOI (Southern Oscillation Index,  Awal Musim Hujan (AMH, Awal Musim Kemarau (AMK)

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Kabupaten Indramayu  cukup rentan terhadap penyimpangan iklim. Berdasarkan data dari Laporan Tahunan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu diketahui bahwa pada tahun-tahun terjadinya El-Nino dan pada tahun-tahun terjadinya La-Nina, Indramayu mengalami kerusakan tanaman pangan (padi) yang cukup tinggi. Gambar di bawah memperlihatkan peluang dan luas areal kekeringan maupun kebanjiran wilayah Indramayu.  Dari gambar tersebut terlihat bahwa peluang terjadinya kekeringan maupun kebanjiran di Indramayu dapat mencapai di atas 60 %.  Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap produksi tanaman pangan terutama padi.  Data Diperta Indramayu tahun 2001 menyatakan bahwa lahan pertanian di Indramayu  tahun 2000 mencapai seluas 204.011 ha yang terdiri dari lahan sawah seluas 118.513 ha dan lahan kering seluas 85.498 ha.  Dari seluas lahan sawah

 

{mosimage} 

Gambar Luas areal  dan peluang terkena kekeringan dan banjir di Indramayu (Boer et al, 2003) 

tersebut 14.684 ha merupakan lahan tadah hujan. Petani Indramayu umumnya mulai menanam padi pada bulan November, akan tetapi di bagian utara Indramayu,  penanaman pertama bulan  November beresiko terjadinya  banjir,  sedangkan  penanaman  kedua  bulan  Maret  beresiko terjadinya kekeringan, karena ketersediaan air terbatas.  Oleh karena itu, penentuan awal musim hujan  yang tepat akan sangat membantu petani untuk memulai kegiatan bercocok tanam, dan kerugian akibat penyimpangan iklim dapat diminimalisir.  Tulisan ini menyajikan  penggunaan nilai SOI (Southern Oscillation Index) di dalam menentukan kejadian peluang curah hujan pada musim tertentu, yang sangat terkait dengan  kejadian penyimpangan iklim.

 

 

METODOLOGI

 

 

Bahan yang digunakan adalah: data curah hujan harian (tahun 1966-2001),  data SOI (tahun 1951-2001),  Laporan Meteorologi dan Geofisika BMG dan Ikhtisar Meteorologi dan Geofisika BMG yang dikeluarkan setiap bulan (1987-2002) serta Prakiraan Musim Hujan BMG dan Prakiraan Musim Kemarau BMG yang dikeluarkan setiap enam bulan sekali (1995-2001).  Data iklim diperoleh dari Dinas Pengairan Kabupaten Indramayu, Perum Jasa Tirta II (Jatiluhur).  Penelitian dilaksanakan pada tahun 2003  dengan studi kasus Kabupaten Indramayu.

 

 

Awal musim hujan (AMH)  dan awal musim kemarau (AMK) diklasifikasikan berdasarkan  tahun ENSO ( La-Nina dan El-Nino) dan tahun normal.   Berdasarkan klasifikasi tersebut akan terlihat perbedaan  awal musim pada tahun El-Nino, La-Nina dan Normal, baik untuk musim hujan maupun untuk musim kemarau.

 

 

Pemilahan fase SOI dimaksudkan untuk melihat peluang  anomali curah hujan pada bulan atau musim tertentu.  Biro Meteorologi di Australia dalam Rainmen (Patridge dan Maksum, 2002)  mengelompokkan SOI menjadi 5 fase (Gambar Lima fase SOI).   El-Nino biasanya digambarkan oleh fase konstan negatif  dan fase menurun cepat (fase 1 dan 3), sedangkan La-Nina oleh fase konstan positif dan fase meningkat cepat (fase 2 dan 4), dan kondisi normal oleh fase mendekati nol (fase 5).    Penentuan fase SOI didasarkan pada selisih antara  nilai SOI  pada bulan tersebut dengan SOI  bulan sebelumnya.

 

{mosimage}

 

Gambar  Lima fase SOI (Patridge dan Maksum, 2002)

 

Pemilahan dilakukan untuk setiap fase SOI, kemudian fase 1 dan 3 digabungkan (mewakili kondisi El-Nino), demikian pula fase 2 dan 4 (mewakili kondisi La-Nina).   Fase SOI tersebut kemudian  dihubungkan dengan anomali curah hujan bulanan wilayah yang dianalisis, sehingga didapatkan suatu peluang anomali  curah hujan.

 

 

Pengelompokan curah hujan dilakukan berdasarkan analisis komponen utama yang dilanjutkan dengan analisis gerombol dengan mengikutsertakan stasiun hujan kabupaten  lain yang berbatasan dengan Indramayu (Gambar Wilayah  hujan Indramayu berdasarkan hasil  pengelompokan). Perbedaan setiap kelompok dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan (kabupaten) di sekitarnya, yaitu   Kabupaten Cirebon, Majalengka, Subang dan Sumedang. Perbedaan karakteristik lingkungan seperti vegetasi, lereng, pegunungan, mempengaruhi kondisi iklim (curah hujan) dari wilayah yang berbatasan. 

Tabel Pengelompokan stasiun hujan di Indramayu 

 

 

Kelompok Stasiun
Kel-1Anjatan, Bugel, Bulak, Cigugur, Sukra, Tlkacang
Kel-2Bangkir, Cidempet, Indramayu
Kel-3Bugis, Jatibarang, Juntinyuat, Kedokanbunder, Kertasemaya,Lohbener, Losarang, Ujungaris
Kel-4Cikedung, Kroya, Sukadana, Sumurwatu, Tugu
Kel-5Karangasem, Lwsemut, Sudimampir, Wanguk
Kel-6Gabuswetan, Krangkeng, Sldarma, Sudikampiran
Kel-7Bondan, Gantar, SkSlamet, Tamiyang
Kel-8Bantarhuni, Cipancuh

 

 

 

 

{mosimage} 

Gambar Wilayah  hujan Indramayu berdasarkan hasil  pengelompokan

   

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Awal Musim Hujan dan Kemarau di Indramayu

Kabupaten Indramayu sangat  dipengaruhi oleh fenomena ENSO (Elnino Southern Oscillation). Dari pengamatan awal musim di setiap stasiun terlihat bahwa  pada tahun-tahun El-Nino, awal musim umumnya mundur satu hingga tiga dasarian,   sedangkan  pada tahun-tahun La-Nina mengalami percepatan.

 

Awal musim kemarau (AMK), awal musim hujan (AMH) dan curah hujan (CH) pada tahun-tahun El-Nino dan La-Nina pada setiap stasiun dibandingkan dengan rata-rata
STASIUN NORMALEL-NINOLA-NINA
AMKAMHCH tahunan(mm)AMKAMHCH tahunan(mm)AMKAMHCH tahunan(mm)
Kel-1         
Anjatan1211401123122713351725
Bugel10311081238791131253
Bulak122132211211291531514
Kel-2         
Bangkir1711907183182316362347
Cidempet1411641132134317361892
Indramayu15351762141144114332262
Kel-3         
Bugis1421468132125013351648
Jatibarang143515251136134415331731
Juntinyuat1711520162123615352107
Kedokan Bunder1411449144128417352070
Kertasemaya162165516414311911893
Lohbener1611550153133719331775
Losarang1411520141124815341786
Ujungaris14361505143129016341637
Kel-4         
Cikedung15361609143131017352020
Sukadana1611558153163616361676
Sumurwatu17361630153137318342147
Tugu173515701735136418321814
Kel-5         
Karang Asem1311286113115015361517
Sudi  Mampir1511378143115813361699
Kel-6         
Gabus Wetan131136513212241411651
Krangkeng1611464153124017342008
Sudi Kampiran1411410143115218331811
Kel-7         
Bondan15361709151158818342022
Gantar153317531332167216332075
Kel-8         
Bantarhuni153518661436181515332100
Cipancuh163519061335187917342176
Rata-rata1511550142136416351865

 Keterangan :  AMK = Awal Musim  Kemarau (dasarian)AMH = Awal Musim  Hujan(dasarian)                    

Tabel Pergeseran awal musim kemarau (AMK) dan awal musim hujan (AMH)  pada tahun-tahun El-Nino dan La-Nina pada setiap stasiun dibandingkan dengan rata-rata  

Stasiun El-NinoLa-Nina
AMKAMHAMKAMH
Kel-1    
Anjatan0(+)2(+)1(-)2
Bugel(+)20(+)10
Bulak(-)10(+)3(+)1
Kel-2    
Bangkir(+)1(+)2(-)1(-)1
Cidempet(-)1(+)1(+)3(-)1
Indramayu(-)1(+)2(-)1(-)2
Kel-3    
Bugis(-)10(-)1(-)2
Jatibarang(-)3(+)1(+)1(-)2
Juntinyuat(-)1(+)1(-)2(-)2
Kedokanbunder0(+)3(+)3(-)2
Kertasemaya0(+)2(+)3(-)1
Lohbener(-)1(+)2(+)3(-)3
Losarang00(+)1(-)2
Ujungaris0(+)3(+)2(-)2
Kel-4    
Cikedung(+)1(+)3(+)2(-)1
Sukadana(-)1(+)20(-)1
Sumurwatu(-)2(+)3(+)1(-)2
Tugu00(+)1(-)3
Kel-5    
Karangasem(-)2(+)2(+)2(-)1
Sudimampir(-)1(+)2(-)2(-)1
Kel-6    
Gabuswetan0(+)1(+)10
Krangkeng(-)1(+)2(+)1(-)3
Sudikampiran0(+)2(+)4(-)3
Kel-7    
Bondan0(+)1(+)3(-)2
Gantar(-)2(-)1(+)10
Kel-8    
Bantarhuni(-)1(+)10(-)2
Cipancuh(-)30(+)1(-)1
Keterangan : tanda (-) menunjukkan maju, tanda (+) menunjukkan mundur dari rata-ratanya

 

 Meskipun demikian ada juga beberapa stasiun yang tetap atau menunjukkan kondisi sebaliknya.  Untuk awal musim kemarau,  umumnya terjadi lebih cepat  satu hingga tiga dasarian pada tahun-tahun El-Nino, dan sebaliknya  pada tahun-tahun La-Nina  lebih lambat  satu hingga empat dasarian.  Tabel 2 dan 3 menjelaskan  sensitivitas  wilayah Indramayu terhadap adanya  pengaruh  El-Nino  maupun La-Nina.

Pergeseran awal musim, baik kemarau maupun hujan  menegaskan bahwa   pada umumnya hampir setiap wilayah di Indramayu dipengaruhi  pola monsunal yang  sangat kuat.  Tjasyono (1997) menjelaskan bahwa pengaruh El-Nino kuat pada daerah yang dipengaruhi oleh sistem moonson atau wilayah yang mempunyai satu puncak hujan, yaitu pada bulan November-Januari. Dengan kata lain, wilayah Indramayu yang relatif datar memungkinkan kondisi lokal kurang berpengaruh, pada saat  penyimpangan iklim terjadi.

 

 

Hubungan  SOI dengan Awal Musim Di Indramayu

 

 

Pemilahan SOI dilakukan pada musim hujan dan kemarau setiap kelompok hujan.  Berdasarkan analisis regresi diperoleh bahwa pengaruh indikator SOI umumnya nyata pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan, tidak terdapat perbedaan yang nyata pada semua kelompok hujan.  Hal tersebut terkait dengan anomali pada  saat musim kemarau lebih berpengaruh dan memberikan efek yang lebih serius dibandingkan pada musim hujan di seluruh Indramayu.  Dengan demikian, jika terjadi El-Nino, akan menimbulkan dampak  kekeringan dan puso yang lebih besar dibanding pada saat  La-Nina.

 

 

 

 

 

Tabel   Persamaan regresi antara SOI  dengan anomali curah hujan musim kemarau dan hujan pada setiap kelompok hujan

 

KelompokPersamaan RegresiR-SqMSEP
Kel-1ANOCH-MK-KEL1 = 2,23 + 1,12 SOI-MKANOCH-MH-KEL1 = - 1,87 - 0,95 SOI-MH19,2  6,7402,412700,014*0,161
Kel-2ANOCH-MK-KEL2 = 3,41 + 1,72 SOI-MKANOCH-MH-KEL2 = -0,73 -0,36 SOI-MH18,5  0,5996,227820,016*0,718
Kel-3ANOCH-MK-KEL3 = 2,62 + 1,30 SOI-MKANOCH-MH-KEL3 = 0,86 + 0,42 SOI-MH29,2  1,3312,814060,002**0,549
Kel-4ANOCH-MK-KEL4 = 3,18 + 1,64 SOI-MKANOCH-MH-KEL4 = 2,19 + 1,15 SOI-MH31,314,8448,7762,40,001**0,033*
Kel-5ANOCH-MK-KEL5 = 1,90 + 1,00 SOI-MKANOCH-MH-KEL5 = 0,04 - 0,03 SOI-MH14,20,0459,613850,036*0,965
Kel-6ANOCH-MK-KEL6 = 3,59 + 1,83 SOI-MKANOCH-MH-KEL6 = 1,60 + 0,81 SOI-MH38,98,9401,3680,40,000**0,102
Kel-7ANOCH-MK-KEL7 = 3,00 + 1,53 SOI-MKANOCH-MH-KEL7 = 2,46 + 1,19 SOI-MH20,98,5674,315190,010*0,111
Kel-8ANOCH-MK-KEL8 = 3,58 + 1,84 SOI-MKANOCH-MH-KEL8 = 2,90 + 1,52 SOI-MH17,75,6120339130,019*0,198

Tabel di bawah merupakan hasil prakiraan BMG  untuk awal musim hujan dan kemarau.  Evaluasi  dilakukan dengan berpedoman pada  definisi awal musim hujan yaitu  ketika curah hujan sudah mencapai 50mm dan diikuti dengan  50mm pada dua dasarian berikutnya, atau sebaliknya pada musim  kemarau.    Untuk awal musim kemarau, prakiraan masih cukup akurat, berada pada selang yang diperkirakan. Namun untuk musim hujan, awal musim sering mengalami  pergeseran, mundur dari yang diperkirakan.

Tabel di bawah merupakan hasil prakiraan BMG  untuk awal musim hujan dan kemarau.  Evaluasi  dilakukan dengan berpedoman pada  definisi awal musim hujan yaitu  ketika curah hujan sudah mencapai 50mm dan diikuti dengan  50mm pada dua dasarian berikutnya, atau sebaliknya pada musim  kemarau.    Untuk awal musim kemarau, prakiraan masih cukup akurat, berada pada selang yang diperkirakan. Namun untuk musim hujan, awal musim sering mengalami  pergeseran, mundur dari yang diperkirakan.

Tabel di bawah merupakan hasil prakiraan BMG  untuk awal musim hujan dan kemarau.  Evaluasi  dilakukan dengan berpedoman pada  definisi awal musim hujan yaitu  ketika curah hujan sudah mencapai 50mm dan diikuti dengan  50mm pada dua dasarian berikutnya, atau sebaliknya pada musim  kemarau.    Untuk awal musim kemarau, prakiraan masih cukup akurat, berada pada selang yang diperkirakan. Namun untuk musim hujan, awal musim sering mengalami  pergeseran, mundur dari yang diperkirakan.

Tabel  Prakiraan dan evaluasi awal musim di Indramayu disarikan penulis  berdasarkan Prakiraan Musim hujan dan Prakiraan Musim Kemarau BMG  tahun 1995-2001 pada dua Daerah Prakiraan Musim yang ditetapkan BMG (DPM 6 dan 7)

TahunAwal Musim KemarauAwal Musim Hujan
PrakiraanEvaluasiPrakiraanEvaluasi
DPM 6DPM 7DPM 6DPM 7DPM 6DPM 7DPM 6DPM 7
1995April I-IIIMei I-IIIApril I-IIIMei I-IIINovI-IIINovI-IIINovI-IIIOktI-III
1996April I-IIIMei I-IIIApril I-IIIMei I-IIINovI-IIINovI-IIINovI-IIINovI-III
1997April I-IIIMei I-IIIMei I-IIIMei I-IIINovI-IIINovI-IIILewat dari bulan NovLewat dari bulan Nov
1998April I-IIIMei I-IIIMaretI-IIIMaretI-IIINovI-IIINovI-IIILewat dari bulan NovNovI-III
1999April I-IIIMei I-IIIApril I-IIIMei I-IIINovI-IIIOktI-IIINovI-IIINovI-III
2000April I-IIIJuni I-IIIApril I-IIIJuni I-IIINovI-IIINovI-IIINovI-IIINovI-III
2001April I-IIIMei I-IIIApril I-IIIMei I-IIIDes I-IIINovI-IIINovI-III -

  

{mosimage}
{mosimage}

Gambar Peluang  anomali curah hujan (CH) musim hujan (MH) berdasarkan 8 kelompok hujan di Indramayu

 

 

{mosimage}

{mosimage} 

Gambar Peluang  anomali curah hujan (CH) musim kemarau (MK) berdasarkan 8 kelompok hujan di Indramayu

 

 

Terlihat perbedaan  yang cukup jelas antara musim hujan dengan kemarau dari besarnya anomali curah hujan, meskipun polanya relatif sama. Pada MH, kisaran anomali  pada tahun-tahun La-Nina, mempunyai kisaran nilai-nilai positif yang lebih  panjang dibanding tahun-tahun El-Nino, sedangkan pada MK sebaliknya.  Gambar 6 dan 7 memperlihatkan  peluang   dari anomali curah hujan  yang dihitung per bulan dalam satu musim kemarau dan hujan.    Dengan diketahuinya peluang hujan tersebut, dapat  dipilih pola tanam yang sesuai dengan kondisi ketersediaan air.  Selain dengan pengaturan pola tanam, juga dapat dipilih teknologi budidaya yang  sesuai  dengan kenaikan atau penurunan fase SOI  sebulan atau dua bulan sebelumnya.   Peluang dengan melihat fase SOI juga dapat memprediksi hasil  tanaman (Rahadiyan et al 2002) dan membuat keputusan penanaman berdasarkan prediksi hasil. 

{mosimage} 

Gambar Peluang curah hujan yang diperoleh dari perhitungan anomali curah   hujan (CH) April-September  dengan fase SOI pada musim hujan kelompok-1

 

 

{mosimage} 

Gambar Peluang curah hujan  yang diperoleh dari perhitungan anomali curah hujan Oktober-Maret dengan fase SOI musim kemarau pada kelompok-1 

 

KESIMPULAN
  1. Pada tahun-tahun El-Nino, umumnya awal musim di Indramayu mundur satu hingga tiga dasarian, sedangkan  pada tahun-tahun La-Nina mengalami percepatan satu hingga tiga dasarian jika dibandingkan dengan rata-ratanya.  Meskipun demikian ada beberapa stasiun yang tetap atau menunjukkan kondisi sebaliknya. Untuk awal musim kemarau, umumnya awal musim kemarau terjadi lebih cepat  satu hingga tiga dasarian pada tahun-tahun El-Nino, dan sebaliknya  pada tahun-tahun La-Nina  lebih lambat  satu hingga empat dasarian. 
  2. Indikator SOI umumnya lebih nyata pengaruhnya untuk wilayah Indramayu  pada musim kemarau.  Sedangkan pada musim hujan, tidak terdapat perbedaan yang nyata pada semua kelompok hujan. 

 

PUSTAKA

 

 

[BMG]. Badan Meteorologi dan Geofisika. 2003. Pewilayahan hujan dan prakiraan musim kemarau 2003 di Kabupaten Indramayu.

 

[Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Indramayu]. 2001. Laporan Tahunan 2000.  Boer, R and Team. 2003. Climate Forecast Information Application : Case Study at Indramayu District.  Report

 

Submitted to Asian Disaster Preparedness Centre. Bangkok, Thailand. Partridge IJ, Mashum M. 2002. Kapan Hujan Turun?  Dampak Osilasi  Selatan dan El-NINO di Indonesia. Department of Primary Industries. The  State of Queensland, Department of Primary Industries. 

 

Rahadiyan RMK, Boer R, Setiawan S. 2002. Analisis hubungan keragaman hujan dan produktivitas tanaman jagung dan kedelai dengan fenomena Enso (el-nino . southern oscillation). Bogor : IPB FMIPA Jurusan Geofisika dan Meteorologi. 

 

Tjasyono B. 1997. Mekanisme fisis para, selama, dan pasca El-Nino. Paper disajikan pada Workshop Kelompok Peneliti Dinamika Atmosfer, 13-14 Maret 1997. 

 

 
Terakhir diperbarui Senin, 12 Februari 2007 16:53
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com