Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Jurnal
Manfaat Pengembangan Dam Parit Untuk Pengendalian Banjir Dan Kekeringan PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 12 Februari 2007 21:14
Tahun Buletin 2005

 

Study Kasus Sub Das Cibogo, Das Ciliwung, Bogor

Oleh : Sawiyo

ABSTRAK

 

Pengelolaan air untuk penanggulangan banjir atau kekeringan di suatu DAS harus mempertimbangkan aspek sumberdaya lahan, hidrologi dan iklim. Dengan  mempertimbangkan ketiga aspek tersebut, dam parit (channel reservoir) dapat dibangun untuk menanggulangi kekurangan air di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Pengelolaan air secara terpadu dilakukan dengan menyimpan air yang berlebihan pada musim penghujan untuk dapat didistribusikan ke lahan pertanian pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik biofisik sub DAS Cibogo dan pengaruhnya terhadap produksi dan pemanfaatan air, mempelajari manfaat dam parit untuk mengurangi resiko banjir di musim hujan dan manfaatnya bagi peningkatan produktifitas lahan di musim kemarau. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang karakteristik biofisik sub DAS yang berpengaruh terhadap produksi air dan pemanfaatannya, informasi tentang manfaat dam parit dalam mengurangi volume debit puncak dan perlambatan waktu respon di musim penghujan, dan manfaat dam parit dalam penyediaan air bagi pertanian dan domestik, untuk meningkatkan luas areal tanam, peningkatan produktivitas lahan dan ketersediaan air baku bagi keperluan rumah tangga di musim kemarau.

Kata Kunci : Dam parit, kekeringan, banjir, debit, pertanian, sub DAS Cibogo

 

Terakhir diperbarui Senin, 12 Februari 2007 21:24
(Selengkapnya)
 
Anomali Curah Hujan Periode 2010-2040 di Indonesia PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 12 Februari 2007 19:18

Rainfall Anomali on 2010-2040 in Indonesia ; Simulated by ARPEGE Climat version 3.0 Model 

Oleh : Haris Syahbuddin dan Tri Nandar Wihendar

ABSTRAK  

Sejak tahun 1980an para pemerhati dan peneliti meteorologi meyakini bahwa akan terjadi beberapa penyimpangan iklim global, baik secara spatial maupun temporal, seperti   peningkatan temperatur udara, evaporasi dan curah hujan.  Menjadi hal sangat krusial mengetahui besaran anomali curah hujan yang akan terjadi pada masa datang di wilayah Indonesia dalam skala global menggunakan model prakiraan iklim yang dikembangkan berdasarkan keterkaitan proses antara atmosfer, laut, dan kutub dengan memperhatikan evolusi yang proporsional dari peningkatan konsentrasi CO2 di trophosfer.  Penelitian desk studi simulasi zonasi curah hujan untuk periode 1950-1979 dan periode 2010-2039 beserta anomalinya terutama untuk musim hujan (Maret sampai Oktober) dilaksanakan pada tahun 2002.  Anomali zonasi curah hujan merupakan selisih kejadian hujan (mm) pada periode inisial (1950-1979) dengan periode berikutnya (2010-2039), dengan menggunkan model ARPEGE (Action de Recherche Petite Echelle Grande Echelle) Climat versi 3.0.  Besaran curah hujan yang ditampilkan merupakan keadaan curah hujan rataan bulanan pada kedua periode tersebut.  Koordinat yang dipilih berkisar antara 25° Lintang Utara dan Lintang Selatan serta berkisar 150° Bujur Timur.  Selain itu, dianalisis zonasi temperatur maksimal dan temperatur minimal untuk ketinggian 2 m di atas permukaan tanah dan evaporasi (mm).  Untuk melihat perubahan frekuensi kejadian hujan sepanjang tahun 1980 sampai 2000 pada kondisi lapang, dilakukan analisis frekuensi untuk parameter curah hujan dan temperatur pada dua periode pengamatan: periode 1980-1990 dan 1991-2000.  Data iklim hasil pengamatan tersebut diperoleh dari stasiun klimatologi Tamanbogo, Lampung Tengah (105°05’ BT ; 5°22’ LS ; 20 m dpl) dan Genteng, Jawa Timur (114°13’ BT ; 8°22’ LS ; 168 m dpl).  Pada periode 2010-2039 diprakirakan akan terjadi peningkatan jumlah curah hujan di atas wilayah Indonesia, yang ditandai dengan perubahan zonasi wilayah hujan dengan anomali positip zona konveksi, peningkatan temperatur, dan evaporasi terutama pada zona konveksi  tertinggi di sepanjang selat Malaka, Laut Banda, Laut Karimata, dan Laut Arafura.  Perubahan kualitas dan kuantitas curah hujan, khususnya curah hujan 100-150 mm/hari  secara signifikan (59% dan 100%) pada stasiun sinoptik Tamanbogo dan Genteng telah terjadi pada periode 1991-2000.  Langkah antisipasi limpahan curah hujan yang lebih besar dapat dilakukan secara serentak melalui pendekatan lingkungan dan kemasyarakatan.

Kata Kunci : Anomali curah hujan, simulasi, Model ARPEGE climate version 3.0

 

Terakhir diperbarui Selasa, 22 April 2014 03:22
(Selengkapnya)
 
Global Water Balance Distribution PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 12 Februari 2007 17:49

Tahun Buletin 2005

 

by: Eleonora Runtunuwu

 

ABSTRACT

This paper attempts to study the global distribution of water balance components, i.e. potential evapotranspiration, soil moisture, actual evapotranspiration, and water balance.  Long term grid climatic data from the Climate Research Unit (CRU) are used, including a global, monthly mean data set of temperature, precipitation, diurnal temperature range, relative humidity, wind speed, at 10’x10’Latitude/Longitude resolution, for the period of 1961-1990. The climatic water balance approach of Thornthwaite and Mather was used to produce, the global annual distribution of potential evapotranspiration, soil moisture, actual evapotranspiration, and water surplus-deficit to all grids. The results showed that these water balance components have proven to be good indicators for the distribution of water resouerces in the global and regional scale. The study provides insight to apply water balance method for irrigation proposes. KEY WORDS: water balance, global, climatologically data, Thornthwaite and Mather method. 

Terakhir diperbarui Senin, 12 Februari 2007 17:55
(Selengkapnya)
 
Hubungan SOI (Southern Oscillation Index) Dengan Awal Musim Di Indramayu PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Sabtu, 10 Februari 2007 16:57

Tahun Buletin 2006 

oleh : Suciantini 

ABSTRAK 

Bahaya banjir maupun kekeringan cukup signifikan mempengaruhi produksi tanaman pangan (padi) di Indramayu. Oleh karena itu, penentuan awal musim  yang tepat akan sangat membantu petani untuk memulai kegiatan bercocok tanamnya, dan kerugian akibat penyimpangan iklim dapat diminimalisir.  Tulisan ini menyajikan  hubungan awal musim dengan nilai SOI (Southern Oscillation Index).  Fase SOI merupakan salah satu indikator untuk melihat peluang curah hujan pada musim tertentu, hal ini terkait dengan  akan terjadi atau tidaknya penyimpangan iklim. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2003  dengan studi kasus Kabupaten Indramayu.   Untuk membuat persamaan regresi, data SOI setiap bulan dipilah  berdasarkan fase  1,3 , 2,4 dan fase 5.   Awal musim hujan (AMH)  dan awal musim kemarau (AMK) diklasifikasikan berdasarkan  tahun ENSO ( La-Nina dan El-Nino) dan tahun normal.  Pemilahan fase SOI dimaksudkan juga untuk melihat peluang  anomali curah hujan pada bulan atau musim tertentu. Berdasarkan analisis regresi diperoleh hasil bahwa indikator SOI umumnya lebih nyata pengaruhnya untuk wilayah Indramayu  pada musim kemarau.  Sedangkan pada musim hujan, tidak terdapat perbedaan yang nyata pada semua kelompok hujan.  Hal tersebut terkait dengan anomali pada  saat musim kemarau lebih berpengaruh dan memberikan efek yang lebih serius dibandingkan anomali curah hujan  pada musim hujan, di seluruh Indramayu.  Dengan demikian, jika terjadi El-Nino, akan menimbulkan dampak  kekeringan dan puso yang lebih besar dibanding pada saat  La-Nina.  Pada MH, kisaran anomali  pada tahun-tahun La-Nina, mempunyai kisaran nilai-nilai positif yang lebih  panjang dibanding tahun-tahun El-Nino, sedangkan pada MK sebaliknya.   

Kata kunci : SOI (Southern Oscillation Index,  Awal Musim Hujan (AMH, Awal Musim Kemarau (AMK)

 

 

 

Terakhir diperbarui Senin, 12 Februari 2007 16:53
(Selengkapnya)
 
Pengelolaan Sumberdaya Iklim dan Hidrologi untuk Mendukung Primatani PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 07 Desember 2006 18:46
Tahun Penelitian 2005

Sampai saat ini banyak upaya yang telah dilakukan untuk menangani permasalahan air baik untuk mengatasi kekurangan air ataupun sebaliknya dalam menangani masalah banjir. Karena tanpa penanganan yang serius dampak banjir dan kekeringan ini akan mengganggu keberlanjutan sistem produksi pertanian nasional, termasuk  bahan pangan. Persaingan kebutuhan air di masa yang akan datang antara pertanian, industri, dan domestik akan semakin serius, sementara kebutuhan air juga semakin meningkat. Kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi dari air permukaan saja, sehingga upaya pemanfaatan air tanah terutama air tanah dalam merupakan pilihan yang dapat ditempuh. Penelitian untuk menentukan potensi air di permukaan sudah banyak dilakukan, tetapi penelitian untuk menentukan potensi air tanah masih sangat terbatas.  Dengan demikian diperlukan karakterisasi potensi air tanah untuk mengetahui sebaran dan kedalamannya. Dengan mengetahui potensi air tanahnya, maka dapat dilakukan skenario pengelolaan air di wilayah tersebut. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya air maka pengaturan masa tanam yang tepat dengan skenario pemberian irigasi (baik berasal dari air tanah maupun air permukaan) terutama pada fase kritis tanaman mutlak diperlukan. 

Terakhir diperbarui Sabtu, 10 Februari 2007 01:19
(Selengkapnya)
 


Halaman 2 dari 2
Joomla Templates by JoomlaVision.com