Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Hasil-hasil Penelitian
UPSUS 2017 PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 02 Februari 2017 10:01

Koordinasi, Bimbingan, Dan Dukungan Teknologi Upsus, Komoditas Strategis,

Tsp, Ttp, Dan Bio-Industri

(Dr. Ir. Popi Rejekiningrum, MS)



RINGKASAN

Menindaklanjuti arahan Presiden RI pada sidang Kabinet Paripurna 3 November 2014, bahwa Presiden menegaskan agar pencapaian swasembada padi, jagung, dan kedelai dapat dicapai dalam waktu sesegera mungkin.Dalam upaya pencapaian swasembada padi, jagung, dan kedelai, Kementerian Pertanian melaksanakan program upaya khusus sebagai berikut: (1) Optimasi lahan melalui bantuan sarana produksi (benih, pupuk, dan alat mesin pertanian), (2) Perbaikan jaringan irigasi serta bantuan sarana produksi, dan (3) Perbaikan jaringan irigasi dan kegiatan pendukung lainnya. Untuk mendukung upaya tersebut perlu melakukan identifikasi calon lokasi, koordinasi, bimbingan, dan dukungan teknologi upaya khusus agar tercapai peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai minimal 10% dari capaian produksi tahun sebelumnya.

Penelitian 2017

 
FSV 2017 PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 02 Februari 2017 09:50

Model Pengelolaan Air Terpadu Untuk Meningkatkan Produksi Pertanian Dan Indeks Pertanaman Menghadapi Perubahan Iklim

(Ir. Hendri Sosiawan, CESA)



RINGKASAN

Penelitian dan pengembangan sumberdaya lahan khususnya sumber daya iklim dan air harus mampu mendukung terealisasinya swasembada padi, jagung, kedelai (pajale), cabe dan kakao melalui peningkatan produksi komoditas unggulan tersebut . Di bidang pertanian air merupakan faktor utama penentu kelangsungan produksi pertanian, namun pengelolaannya untuk kelangsungan sumber daya air tersebut masih menghadapi banyak kendala baik pada skala daerah irigasi maupun daerah aliran sungai (DAS) dan seringkali memunculkan masalah baru yaitu kelangkaan air, kekeringan dan banjir, dan banyak permasalahan air lain yang terkait. Kondisi ini diperparah dengan maraknya kompetisi penggunaan air antara sektor pertanian dengan pengguna air lainya baik domestik, municipal dan industri.

Untuk itu data dan informasi sumberdaya air yang akurat, terekam dalam format sistem informasi berbasis Daerah Aliran Sungai mutlak diperlukan. Permasalahan yang dihadapi saat ini keberadaan data tersebut terfragmentasi di berbagai institusi dengan bentuk, format, jenis, waktu penyajian dan metode yang berbeda. Untuk mengatasi kendala tersebut diperlukan kuantifikasi dan integrasi data sumberdaya air sehingga dapat memberikan informasi secara menyeluruh baik spasial, tabular dan temporal tentang kondisi sumberdaya air di suatu wilayah.

Data dan informasi sumberdaya air yang terintegrasi dapat digunakan sebagai dasar penyusunan model optimalisasi sumberdaya air untuk menjawab permasalahan kelangkaan air, peningkatan produksi pertanian terutama dalam upaya adaptasi  terhadap perubahan iklim. Model tersebut dapat digunakan sebagai informasi awal dalam menentukan teknologi pengelolaan air yang tepat, untuk menjamin keberlanjutan ketersediaan sumberdaya air suatu DAS. Lebih lanjut model pengelolaan air tersebut perlu diaplikasikan pada skala petani untuk menjawab permasalahan aktual di lapangan terutama upaya adaptasi perubahan iklim. Tujuan umum dari kegiatan penelitian ini adalah: "menganalisis informasi iklim dan air yand dijadikan sebagai dasar untuk menyusun rekomendasi teknologi pengelolaan air terpadu pada lahan kering, lahan tadah hujan dan lahan sawah irigasi mendukung peningkatan produksi dan indek pertanaman". Sedangkan tujuan spesifiknya adalah sebagai berikut:1.     Menyusun Sistem Informasi Sumberdaya Air Pertanian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Papua; 2.   Menyusunan Desain Pemanfataan Sumberdaya Air Alternatif untuk Menghadapi Perubahan Iklim; 3.   Menyusun desain pengelolaan air dan teknologi irigasi hemat air kawasan pengembangan pajale, dan 4. Menyusundanmengembangkan Model  Food Smart Village untuk Pengelolaan Air Terpadu Lahan Sawah Tadah Hujan Mendukung Pajalebabe. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan serangakain metodologi yaitu analisis ketersediaan air menggunakan aplikasi model hidrologi IFAS, analisis kebutuhan irigasi level administrasi menggunakan model neraca air daerah irigasi, serta penyusunan Atlas sumberdaya air; melakukan eksplorasi, eksploitasi dan menyusun rancang bangun pengelolaan air dari sumber air alternatif; melakukan survei identifikasi potensi sumberdaya air permukaan dan melakukan desain dan implementasi pengelolaan air dan teknik irigasi hemat air pada kawasan pengembangan pajale; menyusun rancang bangun model pengelolaan air terpadu pada desa mandiri pangan dan melakukan implementasi desa mandiri pangan pada lahan tadah hujan mendukung pengembangan pajalebabe.

Kata kunci: pengelolaan sumberdaya air terpadu, pajalebabe, model hidrologi, pengelolaan air dan teknik irigasi hemat air, desa mandiri pangan.

Kerangka keterkaitan dan keterpaduan pengelolaan sumberdaya air daniklim yang dikemas dalam model desa mandiri pangan (Food Smart Village)

Penelitian 2017

 
Teknologi Pengelolaan Risiko Keragaman Iklim dan Iklim Ekstrim 2017 PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 02 Februari 2017 09:40

Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Risiko Keragaman Iklim Dan Iklim Ekstrim Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

(Dr. Ir. Elza Surmaini, MSi)



RINGKASAN

Salah satu dampak perubahan iklim yang paling besar pengaruhnya terhadap sektor pertanian adalah kejadian iklim ekstrim. Dampak tersebut makin diperparah oleh rendahnya kapasitas adaptasi karena terbatasnya sumberdaya dan akses terhadap informasi iklim dan teknologi.Besarnya dampak kejadian iklim ekstrim terhadap suatu wilayah juga sangat ditentukan oleh tingkat keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptasi suatu sistim. Untuk meminimalkan risiko bencana iklim saat ini dan di masa yang akan datang perlu disiapkan kajian yang komprehensif mengenai karakteristik iklim saat ini, proyeksi di masa datang iklim, dampak yang akan ditimbulkan dan dipersiapkan teknolgi adapatasi yang tepat. Dalam melakukan analisis historis dan proyeksi ke depan, basis data yang mutakhir dan berkualitas merupakan suatu keharusan. Penelitian bertujuan untuk  a)  menganalisis dan memperbaharui prediksi curah hujan bulanan 3-6 bulan ke depan, b) menganalisis historis kejadian hujan ekstrim dan men-downscale proyeksi curah hujan ekstrim tahun 2020-2030 (near future) dengan skenario iklim, c) Menganalisis batas kritis durasi dan intensitas defisit dan surplus curah hujan yang berpotensi menyebabkan luas tanaman terkena banjir, kekeringan dan OPT dan proyeksinya berdasarkan skenario iklim, d) menganalisis tingkat kerentanan pangan berdasarkan sumberdaya lahan, iklim, air dan skenario proyeksi  curah hujan ekstrim untuk adaptasi terhadap perubahan iklim, e) mengembangkan basis data sumberdaya Iklim yang mutakhir dan berkualitas dan f) menyusun informasi agroklimat mutakhir dalam bentuk Buletin Iklim Pertanian sebagai bagian dari climate services untuk mendukung swasembada pangan.Secara umum pelaksanaan penelitian terbagi atas enamtahap yaitu 1) Kordinasi penelitian 2) pengumpulan data, 3) pengawasan kualitas data, 4) desk work analysis,dan 5) survey lapang, dan 6) Focus Group Discussion (FGD).  Kegiatankoordinasi tim peneliti dengan instansi terkaitpenting dilakukan dalam rangka mematangkan metode, bentuk hasil penelitian yang diperlukan agar dapat dipahami dan diaplikasi pengguna. Pengumpulan dan pengawasan kualitas data merupakan bagian penting untuk menghasilkan hasil analisis yang handal. Pengawasan kualitas data menggunakan analisis kurva massa untuk memilih data direkomendasikan dapat digunakan. Proyeksi curah hujan CMIP5 dengan skenario Representative Concentration Pathways (RCPs) 8.5, 6.0, 4.5, dan 2.6 di-downscale menggunakan delta method dan bias koreksi. Potensi tanaman terkena kekeringan ditentukan berdasarkan diagram pencar antara durasi dan intensitas Standardized Precipitation Index (SPI) dengan luas tanaman terkena banjir, kekeringan, dan OPT. Tingkat kerentanaan pangan dianalisis menggunakan metode kuadran dengan indikator kunci untuk menyusun indeks kapasitas adaptasi dan indeks keterpaparan dan sensitivitas. Buletin iklim pertanian diterbitkan setiap bulan memuat berbagai informasi terkini dan aktual.  Diseminasi dan sosialisasi hasil penelitian dilakukan dengan dinas terkait untuk dan mendapatkan masukan untuk menajamkan dan memantapkan hasil kegiatan dan rekomendasi teknologi adaptasi agar dapat diadopsi dan diimplementasi oleh pengguna akhir.

Peta kerentanan pangan pada level kabupaten di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara

Penelitian 2017

 
Analisis Sumberdaya Iklim dan Air 2017 PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 02 Februari 2017 09:35

Analisis Sumberdaya Iklim Dan Air Untuk Optimasi Katam Terpadu dan Sistem Produksi Pajale Menghadapi Keragaman Dan Perubahan Iklim

(Dr. Yayan Apriyana, M.Si)



RINGKASAN

Tantangan yang dihadapi saat ini selain konversi lahan pertanian yang cepat adalah dampak variabilitas iklim.  Salah satu dampak variabiltas terhadap sektor pertanian adalah perubahan pola hujan dan peningkatan kejadian iklim ekstrim.  Kementerian Pertanian sejak tahun 2007 sampai saat ini telah menyusun dan mengembangkan Kalender tanam Terpadu Modern.  Namun ada beberapa permasalahan secara substantif yang sampai saat ini masih perlu dicermati antara lain : 1). Informasi hidrologi yang belum dimasukkan dalam perhitungan penentuan awal waktu tanam; 2). Informasi sarana prasarana pertanian yang belum tersedia berkaitan dengan rekomendasi waktu tanam; dan 3). Konsistensi produksi padi dengan menggunakan rekomendasi informasi Kalender Tanam Terpaduyang lebih baik dibandingkan dengan cara petani.  Analisis sumberdaya iklim dan air untuk menyusun waktu tanam dan sistem produksi pajale menghadapi keragaman dan perubahan iklim merupakan penelitian dengan keluaran berupa model penentuan waktu tanam dan potensi produksi berdasarkan sumberdaya iklim dan air. Model tersebut nantinyadapat diintegrasikan dengan sistem kelender tanam terpadu sehingga dapat meningkatkan akurasi penentuan waktu tanam.  Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan akurasi potensi waktu tanam sehingga dapat merespon beberapa permasalahan di atas.  Hasil ini diharapkandapat dijadikan pedoman bagi direktorat teknis dalam perencanaan penyediaan sarana produksi pertanian. Selain itu  pengguna/petani dapat mengaplikasikan informasi rekomendasi Kalender Tanam Terpadu Modern tersebutdi lapang dengan masif.  Pada tahun anggaran 2017 dilakukan 3 kegiatan, yaitu : 1). Penentuan waktu tanam terintegrasi berdasarkan sumberdaya iklim dan air; 2). Analisis potensi produksi berdasarkan skenario penentuan waktu tanam; dan 3). Validasi waktu tanam dan pola tanam pada SI Katam Terpadu.  Penelitian akan dilakukan di daerah irigasi terpilih di Provinsi Lampung, Jabar dan Jatim pada wilayah yang mempunyai pola hujan monsunal berbeda serta di sentra produksi padidi Pulau Jawa,dan akan dilaksanakan selama periode bulan Januari sampai dengan Desember 2017.  Inventarisasi dan karakterisasi keragaan daerah irigasi meliputi identifikasi luas D.I, sebaran dan luas  blok tersier, sebaran pintu intake tersier, cakupan daerah administrasi (desa dan kecamatan), ketersediaan air irigasi temporal dan spasial, distribusi curah hujan, awal tanam, pola tanam, indeks pertanaman serta produktivitas.  Inventarisasi dan karakterisasi dilakukan terhadap D.I terpilih yang mewakili kewenangan pusat, provinsi dan kabupaten.  Inventarisasi dan karakterisasi keragaan D.I dilakukan terhadap beberapa periode musim tanam. Analisis kebutuhan air irigasi dilakukan berdasarkan survey lapang serta perhitungan kebutuhan air tanaman menurut Metode Buletin FAO No. 56.  Model penentuan awal tanam dan pola tanam level kecamatan disusun berdasarkan integrasi antara sub model prediksi curah hujan dan sub model neraca air level kecamatan.  Penentuan potensi produksi menggunakan model tanaman Agricultural Production Systems Simulator (APSIM). Model ini mengintegrasikan dampak cuaca variabel harian (terutama curah hujan, suhu dan radiasi matahari) dengan parameter tanah, air dan pengelolaan tanaman padi, dengan 3 skenario, yaitu pada tahun Normal, El Nino dan La Nina.  Validasi dilakukan dengan membandingkan apakah produksi/produktivitas rekomendasi SI Katam Terpadu Modern konsisten lebih tinggi dibandingkan dengan cara petani.  Untuk saat ini parameter yang akan dilihat sebagai pemicu peningkatan produktivitas adalah : waktu tanam dan sistem tanam.

Kata Kunci : KATAM Terpadu Modern, Neraca Air Irigasi, APSIM, PAJALE

Diagram alir kerangka pemikiran penelitian

Penelitian 2017

 
Antisipasi dan Adaptasi Iklim Ekstrim dan Perubahan Iklim 2016 PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 02 Februari 2017 08:40

Analisis Dan Pengembangan Informasi Sumber Daya Iklim Dan Air Untuk Antisipasi Dan Adaptasi Iklim Ekstrim Dan Perubahan Iklim

(Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA)



RINGKASAN

Dampak perubahan iklim yang merupakan suatu keniscayaan dan dipicu oleh aktivitas manusia, sudah sangat dirasakan, seperti perubahan pola curah hujan dan semakin tidak menentunya awal musim hujan dan kemarau, dan lain-lain. Kondisi iklim tersebut menyebabkan kacaunya pola tanam dan aktivitas petani, meningkatnya ancaman kekeringan, banjir, dan organisme pengganggu tanaman (OPT). Semuanya berdampak signifikan terhadap produksi pertanian bahkan gagal panen, terutama tanaman pangan dan hortikultura.Perubahan iklim merupakan proses yang terjadi secara terus-menerus. Seberapa besar dampak perubahan iklim terhadap pertanian bergantung kepada tingkat dan laju perubahan iklim di satu sisi serta sifat dan kelenturan sumberdaya dan sistem produksi pertanian di sisi lain. Oleh sebab itu, strategi antisipasi dan penyiapan teknologi adaptasi dan mitigasi diarahkan kepada: (a) upaya penyelamatan pencapaian sasaran utama pembangunan pertanian, (b) pengembangan pertanian yang tahan (resilience) terhadap perubahan iklim, dan (c) sebagai bagian integral dari program pembangunan pertanian yang sudah dirancang.Selama ini, perhatian dan kebijakan nasional dan internasional lebih didominasi oleh aspek-aspek yang berkaitan dengan mitigasi, padahal aspek adaptasi untuk mengurangi dampak dan kerentanan terhadap perubahan iklim tidak kalah pentingnya.  Adaptasi umumnya berdampak lokal, sedangkan mitigasi lebih berdampak global sehingga perhatian dan kebijakan internasional cenderung lebih memprioritaskan mitigasi. Teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan aspek kunci yang harus menjadi upaya antisipasi Kementerian Pertanian dalam rangka menyikapi perubahan iklim. Upaya yang sistematis dan terintegrasi, serta komitmen dan tanggung jawab bersama yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan guna menyelamatkan sektor pertanian. Untuk mencapai upaya tersebut, perlu dilakukan kegiatan yang menghasilkan informasi, teknologi, dan rekomendasi pengelolaan berkelanjutan sumber daya iklim dan air untuk adaptasi sektor pertanian pangan menghadapi perubahan iklim ekstrim. Untuk itu dilakukan penelitian dilakukan yang bertujuan untuk: (1). Mengembangkan sistem informasi dan komunikasi prediksi iklim serta sintesis kebijakan untuk menyusun program aksi adaptasi sektor pertanian menghadapi kejadian iklim ekstrim dan perubahan iklim, (2).Menganalisis dan memetakan tingkat kerentanan pangan terhadap anomali iklim (El-Nino dan La Nina), (3).Mengidentifikasi potensi dan merancang teknik pengelolaan (eksploitasi) sumber daya air alternatif  untuk menghadapi anomali iklim, (4). Mendalami identifikasi wilayah potensial untuk pengembangan IP-300 berdasarkan peta potensi pengembangan kawasan pertanian PJKU untuk menyusun strategi optimalisasi pemanfaatannya, (5). Mengidentifikasi dan memetakan wilayah/kawasan SDLP rawan kebakaran akibat iklim ekstrim untuk menyusun strategi antisipasi dan kebijakannya, (6). Menyelenggarakan koordinasi dan komunikasi informasi iklim dan air serta hasil-hasil penelitian dan pengembangan terkait dengan antisipasi dan adaptasi iklim ekstrimdan perubahan iklim, dan (7). Mempublikasikan hasil-hasil penelitian dan pengembangan terkait dengan antisipasi dan adaptasi iklim ekstrim dan perubahan iklim.

Penyebaran lahan sawah di Indonesia yang berpeluang terkena dampak kenaikan tinggi muka air laut

Penelitian 2016

 


Halaman 2 dari 17
Joomla Templates by JoomlaVision.com