Berita Aktual|

Desa Nawungan II, Selopamioro, Kabupaten Bantul, 12 Oktober 2021

Acara Temu lapang dihadiri oleh Ka Balitklimat, Ka BPTP DI Yogyakarta,  Dosen Faperta UGM/Perhimpi DI Yogyakarta  Prof Junun Sartohadi MSc , Kepala BPP Imogiri (Pak Lukito), Kepla Desa Nawungan, Ketua Poktan Lestari Mulyo (Juari), Kepala stasiun Klimatologi  Sleman (Reni Kraningtyas, SP, MSi), Peneliti Balitbangtan lurah selopamioro, serta petani

Acara Temu Lapang dibuka oleh Kepala Balitklimat Dr. A Arivin Rivaie.  Ka Balitklimat  dalam sambutannya menyampaikan harapan agar pengembangan bawang merah dengan sentuhan inovasi pengelolaan air dan iklim dapat mengatasi masalah pergeseran pola hujan dan keterbatasan  ketersediaan air dengan dukungan pupuk dan alsintan sudah tersedia. Setelah pembukaaan dilakukan panen air yang dengan inovasi teknologi pemanfaatan air tanah yang telah dimasukkan ke embung dan selanjutnya dialirkan ke lahan.  Selanjutnya dilakukan panen bawang merah off season

Lurah Selomapioro dalam sambutannya menyampaikan di Desa Nawungan II ada sekitar 200 ha lahan yang ditanam bawang merah.  Pada lahan ini sebelumnya tidak bisa panen bawang merah karena tidak ada air. Untuk tanah yang belum bisa dimanfaatkan agar dapat dukungan sumber air sehingga dapat menamam 3 kali se tahun.  Dukungan onformasi prediksi juga sangat diperlukan, karena saat ini pranatomongso tidak dapat lagi dijadikan patokan dalam menentuak musim tanam. Ahli tanah dimintakan saran pengelolaan lahan agar tanaman menjadi subur.

Kepala BPTP DI Yogyakarta Dr. Suharsono menyatakan bahwa panen dan hemat air Kecamatan Imogiri menjadi sudah menjadi inspirasi setelah keberhasilan usaha tani bawang sudah disampaikan dalam versi Youtube. Selopamioro menjadi ikonik setelah keberhasilan usaha tani bawang merah di lahan marginal. Selo pamioro yang mempunyai arti batu yang dipelihara artinya lahan yang berbatu yang bisa menjadi cadangan pangan baru.  Bekerja di lahan yang sangat marjinal dengan semangat kolaborasi semua komponen masyarakat untuk merubah lahan marginal untuk menghasilkan produksi pangan dan sekaliguas menjadi edukasi.  Saat ini sudah lebih 260 sumur ladang/embung  di dusun Nawungan II yang dibangun petani di lahan masing masing. Perilaku budaya masyarakat yang merubah alam yang tidak berpotensi menjadi berpotensi dengan memanfaatkan sumber air untuk budidaya bawah merah.

Kepala stasiun meteorologi Sleman menyampaikan prediksi MH 2021/2022.  Kondisi ENSO netral dan ada kecenderung La Nina lemah, berimplikasi adanya penambahkan curah hujan pada akhir tahun 2021 sampai awal tahun 2022. Suhu muka laut di wilayah Indonesia masih cukup hangat, sehingga potensi pembentukan awan hujan pada bulan Oktober-November masih tinggi.  Monsun Asia yang menyuplai uap air dari Asia sudah menguat.  Selanjuntya diprediksi bahwa periode musim Kemarau 2021 di DIY adalah Juni-Oktober.  Pengamatan Hari Tanpa Hujan di   DIY sampai bujlan Oktober masih berwarna hijau yang artinya HTHnya pendek.  Di Kabupaten Bantul pada awal Oktober curah hujan sudah turun tapi  tapi masih di bawah normal.  Prediksi curah hujan Oktober berkisar 51-150 mm.  dengan sifat hujan atas normal, dan pada bulan November meningkat sekitar 2001-400 mm (kriteria menegah-tinggi).  Untuk bulan Desember 2021 sifat hujan diprediksi di atas normal. Awal MH di Kabupaten Bantul diprakirakan mupai Oktober dasarian III. Prakiraan sifat hujan normal, dan puncak hujan terjadi pada Januari 2022.  Panjang MH 2021/2022 diprediksi 20 dasarian mulai Oktober III. 

Prof Junun Sartohadi menyampaikan bahwa pada lahan marginal di Selopamioro terdapat dua jenis tanah yaitu tanah merah dan tanah hitam. Tanah merah ini hanya sesuai untuk tanaman ketela pohon dan kacang tanah. Pengelolaan tanah dengan menambahkan bahan organik dan air akan meningkatkan kesuburan tanah sehingga dapat dibudidayakan tanamn lain. Pemanenan air dengan mmebangun embung perlu dengan mengoptimlakan pemanenan hujan dengan membuat  alur parit kecil. Pendamping dalam pengolahan lahan dan teknologi telah dipraktek tapi belum disosialisasi oleh UGM.  UGM telah melakukan pendampingan petani dengan penggunaan pupuk hayati, mikoriza, teknologi pemberantasan OPT yang tidak banyak menggunakan pestisi dan fungisida. 

Sharing pengalaman Bertani bawang merah di Nawungan oleh Bapak Sukini.  Dengan adanya air dapat meningkatakan IP dari 130 menjadi  IP 300 dengan pola tanam padi gogo-bawang merah-bawang merah tercapai dengan pemanfaatan air tanah.  Sebelum adanya sumur bor pla tanamnya adalah kacang tanah- ubikayu.  Pak Sukini menanam benih bawang merah 100 kg dengan pupuk organik 10 ton/ha dapt menghasilakan 10-12 ton/ha dan pada MK 14 ton/ha dan panen off season.  Varietas yang ditanam Jokowi/trisula dan varietas Tiro (lokal Bantul). 

Comments are closed.

Close Search Window